Sudah berlangganan artikel blog Keperawatan Kesehatan via RSS Feed?

Tuesday, August 10, 2010

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Marhaban .... Ya ......Ramadhan . . . .


selamat menunaikan ibadah puasa
bersama kita leburkan kekhilafan,
semoga dengan puasa mempertemukan kita
dengan keagungan Lailatul Qadar
dan kita semua menjadi pilihanNya
untuk dikabulkanNya do'a - do'a kita
dan kembali menjadi fitrah
.....


Baca Selengkapnya → Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Monday, January 18, 2010

Nanda Nursing Diagnosis By Gordon’s Functional Health Patterns

Nanda Nursing Diagnosis By Gordon’s Functional Health Patterns



Baca Selengkapnya → Nanda Nursing Diagnosis By Gordon’s Functional Health Patterns

Saturday, July 18, 2009

Pengorganisasian masyarakat: implementasi Desa Siaga Sehat Jiwa DSSJ

Pengorganisasian masyarakat: implementasi Desa Siaga Sehat Jiwa DSSJ
Materi seminar CMHN 



Baca selangkapnya untuk melihat video keterangan file Power point
Download file Power point Clik Disini



Baca Selengkapnya → Pengorganisasian masyarakat: implementasi Desa Siaga Sehat Jiwa DSSJ

Thursday, June 4, 2009

Seminar Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN

Seminar Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas/Community Mental Health Nursing (CMH) RS Grhasia Propinsi DIY Sabtu 20 Juni 2009
Logo Rumah sakit Grhasia

LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa masyarakat telah menjadi bagian dari masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai masalah multi-dimensional yang masih dan akan terus dihadapi masyarakat menyangkut masalah ekonomi, bencana alam, wabah penyakit merupakan factor pencetus terjadinya masalah pada kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Masalah kesehatan jiwa di masyarakat dampaknya sangat luas dan kompleks. Meskipun secara tidak langsung menyebabkan kematian, namun akan mengakibatkan si penderita gangguan jiwa menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga dan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Pelayanan keperawatan jiwa selama ini berfokus pada pelayanan di rumah sakit, dimana pelayanan tersebut dapat dikatakan bersifat pasif yaitu menunggu masyarakat yang datang ke rumah sakit. Pelayanan berbasis rumah sakit tidak dapat menjangkau masyarakat yang sehat dan yang berisiko sehingga masyarakat menjadi rentan terhadap masalah/gangguan kesehatan jiwa.


Visi Rumah Sakit Grhasia adalah “ Menuju Rumah Sakit Unggulan Khusus Pelayanan Psikiatri dan Napza di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Pada Tahun 2008”. Salah satu upaya untuk mencapai visi tersebut adalah mewujudkan peningkatan pelayanan kesehatan jiwa melalui Tri Upaya Bina Jiwa yang bermutu, meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Sejalan dengan paradigma sehat yang dicanangkan Departemen Kesehatan yang lebih menekankan upaya proaktif dan berorientasi pada upaya pencegahan (preventif) dan promotif maka penanganan masalah kesehatan jiwa telah tergeser dari hospital base menjadi community base psychiatric services. Melalui pelaksanaan program-program yang dimiliki unit kesehatan jiwa masyarakat, RS Grhasia telah turut berkontribusi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas.
Pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan strategi yang terbaik untuk dapat mencapai masyarakat yang sehat tetap sehat, yang berisiko dapat dicegah agar tidak terjadi gangguan, dan yang mengalami gangguan menjadi sembuh dan produktif kembali.
Perawat yang bertugas di rumah sakit jiwa merupakan sumber daya kesehatan yang vital karena sangat berperan dalam upaya peningkatan mutu kesehatan jiwa masyarakat. Namun untuk bisa memberikan pelayanan yang dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat perlu adanya kerjasama lintas sektoral termasuk melibatkan peran serta masyarakat itu sendiri karena sumber daya masyarakat merupakan aspek yang paling vital untuk melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat.
Agar perawat dapat berperan secara optimal dalam pelayanan keperawatan kesehatan jiwa komunitas ini, diperlukan pengetahuan dasar tentang konsep keperawatan kesehatan jiwa komunitas. Untuk itu PPNI komisariat RS Grhasia akan menyelenggarakan seminar sehari dengan tema : 
"Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas".


TUJUAN
1. Umum
Meningkatkan pengetahuan perawat tentang keperawatan kesehatan jiwa komunitas.
2. Khusus
a. Memahami konsep keperawatan kesehatan jiwa komunitas.
b. Memahami pengorganisasian sumber daya kesehatan
c. Memahami pengorganisasian sumber daya masyarakat


JUMLAH PESERTA
Peserta seminar adalah perawat RS pemerintah/swasta, puskesmas, institusi pendidikan, mahasiswa keperawatan. Jumlah peserta Terbatas 100 orang


WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Pendaftaran dimulai tanggal 1 Juni 2009 sampai dengan Jumat 19 Juni 2009
Contact person pendaftaran :
  • Yunita 0274-6914346
  • Puji Hastuti 085228390165
  • Tyas 0274-6638005
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Seminar akan diselenggarakan pada :
Hari / tanggal: Sabtu / 20 Juni 2009
Jam : 08.30 – 13.00 WIB
Tempat : RS Grhasia Provinsi DIYJl. Kaliurang Km 17, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

NARA SUMBER
Pembicara dalam seminar ini adalah :
1. Maryono Sedyowinarso, S.Kp. M.Kes
2. Puji Sutarjo, S.Kep. Ns
3. Akrim Wasniyati, S.Kep. Ns

Baca Selengkapnya → Seminar Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN

Thursday, May 28, 2009

Asuhan Keperawatan Pada Diare

Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang, dimana diare adalah penyebab penting kekurangan gizi. Ini disebabkan karena adanya anoreksia pada penderita diare sehingga dia makan lebih sedikit daripada biasanya dan kemampuan menyerap sari makanan berkurang padahal kebutuhan sari makanan meningkat selama adanya infeksi. Penyebab kematian utama karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya.
Definisi Diare BAB lebih dari tiga dengan konsistensi cair (WHO, 1992)
Jenis-jenis diare
Diare sebagai epidemiologi didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak dan cair tiga kali atau lebih dalam sehari. Secara klinik dibedakan 3 macam sindroma diare, yang masing-masing mencerminkan patogenesis yang berbeda dan memerlukan pendekatan yang berlainan dalam pengobatannya,

Diare cair akut
Diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan pengeluaran tinja yang lunak / cair yang sering dan tanpa darah. Mungkin disertai muntah dan panas. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan kurang dapat mengakibatkan kurang gizi. Kematian yang terjadi disebabkan karena dehidrasi. Penyebab terpenting pada anak-anak : Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholera, Salmonella, E. coli, rotavirus.
Disentri
Adalah diare yang disertai darah dalam tinja, akibatnya antara lain : anoreksia, penurunan berat badan secara cepat, perusakan mukosa usus karena bakteri invasive. Penyebab utama adalah Shigella, penyebab lainnya Salmonella, C. jejuni.
Diare Persisten
Adalah diare yang mula-mula bersifat akut tapi berlangsung selama 14 hari. Episode ini dimulai sebagai diare cair atau disentri. Kehilangan berat badan yang nyata sering terjadi. Volume tinja dalam jumlah banyak sehingga ada resiko dehidrasi. Penyebab : E. coli, Shigella dan Cryptosporidium. Diare persisten berbeda dengan diare kronik, yakni diare intermitten (hilang-timbul), atau yang berlangsung lama dengan penyebab non infeksi, seperti penyakit sensitive terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun.
Epidemiologi
Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain makanan, minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung dengan tinja penderita.
  • Perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya diare; Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan, Menggunakan botol susu yang tercemar, Menyimpan makanan masak pada suhu kamar dalam waktu cukup lama, Menggunakan air minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, Tidak mencuci tangan setelah buang air besar, sesudah membuang tinja atau sebelum memasak makanan, Tidak membuang tinja secara benar.
  • Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare; Tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, Kurang gizi, Campak, Imunodefisiensi / imunosupressif.
  • Umur Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden paling banyak 6 – 10 bulan (pada masa pemberian makanan pendamping).
  • Variasi musiman Variasi pola musim diare dapat terjadi melalui letak geografi. Pada daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas sedangkan diare karena virus (rotavirus) puncaknya pada musim dingin. Pada daerah tropik diare rotavirus terjadi sepanjang tahun, frekuensi meningkat pada musim kemarau sedangkan puncak diare karena bakteri adalah pada musim hujan. 
  • Infeksi asimtomatik kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik / tanpa gejala dan proporsi ini meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukkan imunitas aktif.
Prinsip utama pengobatan diare
  1. Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya/penyebabnya.
  2. Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada gizi.
  3. Antibiotik/anti parasit tidak boleh digunakann secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus termasuk diare berat, diare dengan panas kecuali :  pada disentri yang harus diobati dengan antimikroba yang efektif untuk shigella, Suspek kolera dengan dehidrasi berat,  Diare persisten, bila diketemukan tropozoit atau kista G lamblia atau tropozoit E. histolitika di tinja atau cairan usus, atau bila bakteri patogen ditemukan dalam kultur tinja.
Terapi rehidrasi, Bertujuan untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat.
Terapi rehidrasi oral:
  • Cairan oralit (cairan rehidrasi oral)  Oralit adalah campuran gula dan garam. Rasio glukosa vs natrium paling tidak 1 : 1. Untuk terapi diare di rumah ibu diberi oralit untuk pemakaian 2 hari. Bila memberikan oralit satu kantong harus diberikan sekaligus dan larutan oralit yang tidak digunakan dalam 24 jam harus dibuang. Bila diare terus berlangsung sedangkan oralit sudah habis harus memberikan cairan rumah tangga atau membawa kembali anaknya ke sarana kesehatan untuk pengobatan.
  • Cairan rumah tangga,  Meskipun komposisinya tidak seberat oralit untuk mengobati dehidrasi, cairan larutan seperti sup, air biasa, minuman yoghurt mungkin lebih praktis untuk rehidrasi oral mencegah dehidrasi. Cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada anak pada saat mulai diare dengan tujuan memberi lebih banyak cairan dari biasanya. Ada beberapa cairan yang tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare termasuk sari buah manis yang diperdagangkan, pencahar, stimulansia seperti kopi.
Kriteria cairan rumah tangga yang diberikan pada penderita diare :
  1. Aman bila diberikan dalam jumlah banyak. Teh yang sangat manis, soft drink dan minuman buah komersial yang manis harus dihindarkan karena menyebabkan diare osmotik, memperberat dehidrasi.
  2. Mudah menyiapkan.
  3. Dapat diterima oleh penderita.
  4. Efektif.
Upaya rehidrasi oral tidak tepat untuk :
  • Pengobatan awal dehidrasi berat, karena cairan harus diganti dengan cepat.
  • Penderita ileus paratikus dan perut kembung.
  • Penderita yang tidak dapat minum.
Upaya rehidrasi oral tidak efektif untuk :
  • Penderita dengan pengeluaran tinja yang sangat banyak dan cepat (lebih dari 15 ml/kgBB/jam) serta penderita tidak dapat minum cairan dengan jumlah yang cukup untuk mengganti kehilangannya.
  • Penderita dengan muntah berat dan berulang-ulang.
  • Penderita malabsorbsi glukosa; penderita seperti itu larutan oralit menyebabkan volume tinja meningkat nyata dan tinja mengandung glukosa jumlah besar.
Makanan pada terapi diare
ASI, susu formula atau susu sapi harus diberikan seperti biasanya. Anak umur 6 bulan atau lebih harus diberikan makanan lunak/setengah padat. Tawarkan makanan setiap 3-4 jam atau berikan anak makanan sebanyak dia mau. Pemberian makanan sedikit – sedikit namun sering lebih dapat diterima daripada diberikan dalam jumlah besar tapi jarang. Setelah diare berhenti, teruskan pemberian makanan satu kali lebih banyak daripada biasanya selama 2 minggu menggunakan makanan yang mengandung banyak gizi.
Obat anti diare
Banyak obat dijual untuk mengobati diare akut dan muntah. Obat-obatan anti diare meliputi anti motilitas usus (misal loperamid, difenoksilat, kodein), adsorben (misal norit, kaolin, attapulgit, smectite) dan biakan bakteri hidup (misal lactobacillus, streptokokus faecalis). Antimuntah termasuk klorpromasin, prometasin. Semua obat di atas tidak boleh diberikan pada anak di bawah 5 tahun.
Antibiotika juga tidak boleh diberikan secara rutin kecuali untuk penderita disentri / kolera. Penggunaan yang berlebihan anti diare, anti muntah, antibiotika, anti protozoa menghambat pemberian oralit atau menghambat pertolongan ke sarana kesehatan. Hal ini juga menghamburkan uang.
Tanda-tanda memburuknya diare, Ibu harus membawa anaknya ke sarana kesehatan jika :
  • tinja cair keluar amat sering.
  • muntah berulang.
  • rasa haus yang meningkat.
  • tidak dapat makan dan minum seperti biasanya.
Diare yang terkait dengan penyakit lain
  1. Diare yang terkait dengan campak. Insiden meningkat pada waktu terkena campak, selama 4 minggu setelah timbulnya penyakit dan kemungkinan sampai 6 bulan sesudah episode campak. Diare yang berhubungan dengan campak seringkali berat dan lama. Karenanya imunisasi campak merupakan cara yang penting untuk mencegah diare dan kematian yang berhubungan dengan diare.
  2. Diare dengan panas  Sering terjadi pada diare yang disebabkan karena rotavirus atau bakteri invasif, seperti shigella, campylobacter atau salmonella. Panas mungkin menyertai dehidrasi dan menghilang selama rehidrasi. Panas pada penderita diare mungkin pula tanda infeksi lain seperti pneumonia, malaria. Namun begitu, tidaklah tepat memberi antibiotik pada anak penderita diare hanya karena panas. Bila suhu badan anak 39oC atau lebih anak harus diobati dengan paracetamol untuk menurunkan suhu badannya atau bila panas sangat tinggi dengan mengompres kepala dan perutnya dengan air hangat.
Penyebab penurunan gizi selama diare
1. Berkurangnya masukan makanan, Merupakan akibat dari :
a. Anoreksia yang terutama terlihat pada anak disentri.
b. Muntah.
c. Menghentikan makanan karena kepercayaan tradisional untuk mengistirahatkan usus.
d. Memberikan makanan dengan nilai gizi kurang, seperti sup yang diencerkan.
2. Berkurangnya penyerapan zat makanan, Disebabkan karena :
a. Kerusakan epitel absorbsi yang mengurangi luas permukaan usus.
b. Defisiensi disakarida karena kegagalan produksi enzim oleh mikrovili yang rusak.
c. Berkurangnya konsentrasi asam empedu yang diperlukan untuk absorbsi lemak.
d. Transit makanan melalui usus yang sangat cepat menyebabkan tidak cukup waktu untuk pencernaan dan absorbsi.
3. Meningkatnya kebutuhan zat makanan, Kebutuhan zat makanan meningkat karena :
a. Kebutuhan metabolik karena panas.
b. Kebutuhan untuk memperbaiki epitel usus.
c. Kebutuhan mengganti kehilangan protein serum melalui mukosa usus yang rusak seperti pada disentri.

Diagnosa Keperawatan yang mungkin  muncul pada Asuhan Keperawatan Diare
  1. Kurangnya volume cairan
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
  3. Risiko kerusakan integritas kulit

Baca Selengkapnya → Asuhan Keperawatan Pada Diare
 

Artikel Terbaru

Comment Terbaru